Connect with us

Story

Cerita Cinta Terlarang –  Maaf, Aku Khilaf

Cerita ini hanya untuk mereka yang sudah cukup dewasa dan mengerti dengan artinya cinta.

Azlan Ravindra

Published

Cerita cinta - maaf aku khilaf
Credit: Al-Insan

Kenalkan nama Aku Rudi 19 tahun (Nama samaran). Aku punya cerita cinta yang nyata yang aku alami belum lama ini.

Aku ingin menceritakan nya karena kisah cinta kami begitu lucu, aneh, bahagia walau harus berakhir tangis sebagai cinta terlarang.

Judul: Maaf Sayang, Aku Khilaf

Aku harap cerita ini boleh sampai kepada nya karena sampai saat ini aku belum bisa move on dari nya meski sudah berpisah 2 tahun lebih.

Padahal kami berpacaran hanya 2 bulan lebih sedikit, namun kisah didalam nya begitu luar biasa.

Awal Pertemuan

Sebut saja nama wanita yang pernah aku cintai itu adalah “Nisa” 17 tahun (Nama samaran). Gadis paling cantik yang baru pertama kali aku lihat saat itu.

Dia masih duduk di bangku kelas 3 SMA di Pekanbaru. Ya, dia adalah salah satu wanita paling cantik disana.

Berkulit putih, tinggi, berat badan yang ideal, rambut lurus sedada dan memiliki bentuk wajah seperti artis “Raisa”. Dia benar-benar sangat cantik.

Dia adalah anak bungsu dari 6 bersaudara. Dan merupakan anak kesayangan dari keluarga nya.

Awal pertemuan kami itu ketika aku pergi ke sebuah acara di salah satu hotel untuk mengambil gambar.

Ya, karena saat itu aku memiliki pekerjaan sampingan sebagai fotografer.

Pada saat berada di depan pintu masuk, aku melihat dia duduk tidak jauh dari sana dan kami saling bertatapan untuk pertama kali nya.

Aku sih cuek aja, karena memang aku orang nya gak terlalu open soal cewek, you know lah.

aku menjalankan tugas untuk mengambil gambar-gambar dan moment penting untuk di abadikan dengan kamera yang aku pegang.

Tampak nya gadis itu memperhatikan aku dari jauh, dia terlihat tidak tenang dan sesekali menolehkan kepala nya ketika aku melihat nya kembali.

Ketika acara sudah selesai, tiba-tiba seorang cewek yang juga teman lama memanggil ku untuk berfoto.

Yah, mau tidak mau aku harus menuruti nya demi menjaga hubungan pertemanan kami.

Ketika aku mengambil gambar, ternyata gadis yang menatap aku tadi juga ada disana.

Mungkin dia salah satu dari keluarga teman lama aku tadi. Aku sempat mengambil fokus ke gadis itu.

Dan… aku benar-benar merasa ada yang aneh dan beda ketika melihat wajah nya yang berpose manis saat di foto.

Selesai berfoto, aku langsung pulang dan melihat foto-foto acara tadi.

Masa Pendekatan

Keesokan hari nya, tiba-tiba gadis itu mengirim pesan lewat whatsapp.

aku tidak tahu dari mana gadis itu dapat nomor aku, ia hanya meminta foto-foto kemarin untuk dikirim.

Setelah aku kirim, percakapan kami tidak berhenti sampai disitu. Begini chat nya.

Aku: Dapat nomor aku dari mana?
Gadis: Dari kak Feny (Teman lama aku).

Aku: Ohh, jadi gimana foto nya? Bagus?

Gadis: Hmm, fotonya bagus. Tapi aku nya jelek kak.
Aku: Ohh, itu persaan kamu aja kali. Bdw, nama nya siapa ni?

Gadis: Nisa, kalau kak?
Aku: Rudi.

Setelah mengetahui nama nya, kami pun mulai cukup akrab untuk komunikasi.

aku juga gak ngerti kenapa dia begitu open dengan aku, dan aku mulai merasa senang dengan nya.

Berlanjut di hari berikut nya…. Kami mulai sering chattingan pagi, sore hingga malam, layak nya seperti pasangan serasi.

Saat itu tepat memasuki hari raya tahun baru, aku memberanikan diri untuk mengajak nya ketemuan di sebuah tempat. Melalui pesan chat aku katakan:

Aku: Hey…
Nisa: Iya kak, ada apa?

Aku: Sibuk gak?
Nisa: Gak kok, emang kenapa kak?

Aku: Ketemuan yuk, sekalian jalan-jalan.
Nisa: Hmm, boleh. Dimana kak?

Aku: Ke Taman (…)
Nisa: Oh, tapi nanti jam 3-an ya kak.

Aku: Rumahnya dimana? Biar aku jemput nanti!
Nisa: Ga usah kak, biar Nisa langsung kesana sendiri naik motor.

Aku: Oh, ya udah, aku tunggu ya disana!
Nisa: Baik kak.

Dengan penuh rasa senang, aku pun mulai bersiap-siap.

Mandi, pilih baju dan tak lupa cuci motor kesayangan biar gak malu-maluin pas goncengin si Dia.

Janjian di Sebuah Taman

Akhirnya sudah jam 3 dan aku mulai bergegas kesana lebih dulu.

Sesampai disana, Nisa belum datang. Sekitar 30 menit menunggu Nisa akhirnya chat aku kalau dia udah di Taman.

Nisa: Kak dimana? Nisa udah ditaman nih!
Aku: Iya, kak juga udah ditaman ni. Nisa pakai baju apa?
Nisa: Nisa sendirian, pakai Dress putih celana hitam kak.

aku mulai berkeliling taman dan mencari wanita dengan pakaian yang dia maksud.

Tak lama ada yang memanggil aku dari belakang. Dan ternyata benar saja, itu adalah Nisa.

aku benar-benar takjub dengan penampilan nya yang begitu cantik.

Aku: Hey… Sudah lama menunggu?
Nisa: Oh, nggak kok kak.

Aku: Baguslah, jadi kita mau kemana nih?
Nisa: Gak tau, kan kakak yang ngajak jalan.

Aku: Hmm, kemana ya… (Merasa bingung, nama nya juga baru kenal)

Kebetulan disana ada banyak kursi kosong, jadi aku ajak dia ke sana sembari meminum Jus.

Disana, Nisa tampak masih malu bertatap muka dengan aku.

Dalam posisi seperti itu aku ajak Nisa untuk berbicara supaya dia tidak terlalu tegang dengan aku.

Aku: Hey, kenapa diam aja?
Nisa: Ah, gak kok kak. Cuma lagi gak pede aja.
Aku: Hmm, biasa aja atuh. Aku juga gak makan orang kok.
Nisa: Haha, ya kalau itu Nisa juga tau kak.

Akhirnya disitu Nisa mulai merasa senang dan percaya diri.

Sekitar satu jam duduk di kursi sambil meminum Jus. Aku melihat raut wajah nya yang merasa tidak nyaman untuk duduk lagi.

Jadi aku mengajak Nisa berkeliling taman.

Aku: Yuk pergi jalan!
Nisa: Ini kan udah pergi jalan kak?
Aku: Hehe, maksud kak pergi jalan ke tempat lain. Sekitar taman juga kok.

Nisa: Ohh, jalan kaki aja ya kak. Sekalian olahraga sore. (Sedikit tersenyum)
Aku: Ok, yuk lah.

Disana kebetulan aku membawa kamera untuk mengabadikan moment bersama nya.

Aku mengajak nya untuk berfoto, namun dia nya masih merasa malu untuk berfoto.

Ya sudah, aku coba untuk di fotokan oleh nya.

Setelah berpose foto ala anak jaman now, aku lihat foto jeperetan Nisa tidak begitu bagus.

Jadi aku kasih penjelasan tentang cara mengambil gambar yang bagus.

Seperti nya dia begitu menyimak setiap kata demi kata yang aku ucapkan.

Gak tau apakah dia benar-benar menyimak atau ada hal lain yang di fikirkan nya dengan wajah diam nya menatap ku.

Lanjut foto berikut nya, dan benar saja. Hasil jepretan nya masih sama seperti yang tadi.

“Coba sini biar aku yang fotoin” Nisa berdiri disana jadi objek ya. Sahut ku ramah.

Mau tidak mau akhirnya dia menuruti permintaan ku.

Ketika di foto, dia tampak berpose biasa aja. Hanya sedikit senyum ditambah dengan 2 jari menyentuh pipi nya.

Namun dia benar-benar cantik disana, aku semakin menyukai gadis imut yang satu ini dalam tatapan fokus kamera.

Mengenal Nisa Lebih Dalam

Lelah berswafoto akhirnya aku mengajak nya untuk duduk sebentar di dekat pohon.

Disana kami mulai bercerita banyak soal kepribadian masing-masing. Kurang lebih dialog nya seperti ini.

Aku: Nisa kenapa gak bawak temen? Gak takut apa jalan sama orang baru kenal?
Nisa: Hmm, emang kak orang jahat ya?

Aku: Ya gak lah, lagi pula kalau kak orang jahat ya kak juga gak mungkin ngaku. Haha. (Bercanda).
Nisa: Iya juga sih. Gak tau kenapa, Nisa merasa kayak udah kenal dekat aja sama kak.

Aku: Haha, mungkin ada ikatan kuat ya?
Nisa: Ikatan apa kak?
Aku: Ikatan batin, haha. (mengundang nya untuk tertawa)

Tampak nya Nisa begitu menikmati percakapan ini, karena aku sendiri mencoba untuk membuat nya sedikit tersenyum.

Aku sempat menatap nya panjang, dan pikiran untuk memiliki hati nya segera langsung muncul dalam benak ku.

Namun rasa nya tidak mungkin, karena ini adalah pertemuan pertama yang kami lakukan ketika janjian.

Namun entah kenapa, pikiran ku terus memaksaku untuk menyatakan cinta kepada nya.

Akhirnya aku coba untuk berdialog sedikit dalam dengan nya, supaya aku tahu apakah dia mau kasih kode atau tidak.

Aku: Bdw, Nisa nanti gak dimarahin sama cowok nya pergi jalan sama kak? (Kode tanya kalau dia udah punya pacar atau belum).
Nisa: Cowok? Nisa baru aja putus dua hari yang lalu kak.

Aku: Ha? kok bisa? (rasa penasaran)
Nisa: Biasalah kak, cowok Nisa itu kan anggota Polisi, jadi dia gampang cari pacar sana sini. Apalagi kami cuma LDR-an.

Aku: Ohh, jadi dia selingkuh gitu?
Nisa: Bukan, Dia lupa kalau pacar nya mantengin dia dari jauh. Jadinya ketahuan deh kedok nya.

Aku: Haha, bisa bercanda juga mah.
Nisa: Iya dong kak, lagi pula orang kayak gitu ngapain dibawa serius.

Aku: Haha, kalau udah jadi mantan aja baru di jelek-jelekin ya.
Nisa: Dia emang pantes di gituin kak. Udah kak bahas yang lain aja lah.
Aku: Hehe, iya iya.

Dari sini aku mulai kenal lebih dekat dengan nya. Dan niat untuk menyatakan cinta pada nya semakin kuat.

Namun aku masih belum mendapat celah yang pas untuk mengatakan ini kepadanya, apalagi dia baru aja putus sama pacar nya.

Akhirnya aku mencoba untuk mengajak nya berdialog dengan pembahasan yang menuju ungakapan cinta.

Aku: Jadi Nisa ada niat buat balikan lagi sama dia?
Nisa: Yah, kalau balikan lagi sih ya gak mau lah kak. Itu sama aja kita jatuh di lubang yang sama.

Aku: Iya juga sih, nama nya juga laki-laki.
Nisa: Tapi kakak gak kayak gitu kan?

Aku: Ya gak lah, jangan kan punya pacar dua, satu aja belum.
Nisa: Ha? Orang seperti kak masih single? (sedikit menertawakan aku)

Aku: Iya, belakangan ini kakak lebih mentingin pekerjaan. Bahkan kakak aja udah lupa rasanya megang tangan cewek itu gimana!

Nisa: Haha, yah gak gitu juga kali kak. Nih… (sambil melayangkan tangan nya di atas punggung tangan aku sekilas).

Aku: Haha, Nisa lucu juga ya.
Nisa: Gak ah, tadi itu biar kakak ingat aja tangan cewek itu gimana.

Keberanian Ku Mengatakan Cinta di Uji

Melihat kiri kanan yang tampak sepi, aku mencoba untuk mengajak nya serius. Ini adalah moment dimana aku akan menyatakan cinta pada nya.

Aku: Kak boleh panggil Nisa “adek”?
Nisa: Terserah kak mana yang nyaman aja deh.

Aku: Ya udah berarti kak panggil adek aja ya.
Nisa: Iya kak.

Aku: Kak mau ngomong serius boleh?
Nisa: Lah, emang dari tadi kakak bercanda apa?

Aku: Bukan, maksud kakak mau bahas yang serius 4 mata.
Nisa: Ohh, iya ngomong aja.

Sejenak aku buka handphone, aku nyalain perekam suara untuk merekam moment dimana aku akan menyatakan cinta padanya. Karena ini adalah pertama kalinya aku menembak cewek secara langsung.

Disitu aku duduk berhadapan muka dengan nya dan langsung memegang kedua tangan nya.

Tampak nya dia menyadari kalau aku akan menyatakan cinta, namun dia menunjukan sikap lugu atau pura-pura tidak tahu.

Aku: Dek…
Nisa: Iya kak, ada apa sampai pegang tangan segala?

Aku: Hehe, pinjam aja dulu sebentar nanti kak lepas.
Nisa: Lama pun tak apa kak. (Wajah tersenyum)

Aku: Kalau ada cowok yang nembak Nisa, Nisa terima gak? (Pertanyaan lugu karena aku benar-benar gerogi dan keringat dingin)
Nisa: Hmm, kenapa nanya gitu kak?

Aku: Jawab aja dek, kak cuma pengen tahu iya apa gak.
Nisa: Yah tergantung kak. Kalau orang seperti kakak mungkin iya. Haha. (Sedikit menertawakan sikap ku yang aneh)

Disitu aku mulai yakin kalau dia bakalan nerima aku karena dia udah buka pintu buat masuk. Hingga akhirnya aku mengeksekusi kalimat cinta ini.

Aku: Jadi gini dek.. (berbicara sedikit latah dan terputus-putus seperti sinyal lelet)
Nisa: Iya apa kak? Dari tadi dak dek dak dek.

Aku: Eh adek jangan marah dulu lah, kak belum selesai ngomong ni.
Nisa: Haha, iya iya, gitu aja ngambek.

Aku: Hehe, Iya jadi gini dek…
Nisa: Iya kak, iyaaa… (sedikit kesal)

Aku: Adek udah makan?
Nisa: Hah? Kakak nanya panjang lebar cuma mau bilang adek udah makan atau belum? (sambil melepaskan gengaman tangan nya)

Aku: Haha, ya gak juga sih…
Nisa: Ya jadi apa kak? to the point aja lah kak… (semakin kesal dengan sikap ku yak gak bisa di tebak)

Aku: Hehe, iya pun…
Nisa: Iya apa kak?

Aku: Iya kak mau bilang sesuatu nih
Nisa: Bilang apa kak? Bilang nisa udah makan, udah minum?

Aku: Yah gak lah…
Nisa: Ya jadi apa kak?

Nisa tampak nya mulau kesal karena harapan yang dia duga tak kunjung selesai.

aku memang sedikit mengulur waktu biar dia tidak terlalu curiga kalau aku akan menembak cinta nya.

Kami Resmi Berpacaran

Tapi kembali aku mengulang dan serius untuk menyelesaikan gugatan perasaan ini.

Aku: Yaudah dek, nih kak serius kok (sambil memegang kedua tangan nya kembali)
Nisa: Iya, nisa dua rius malahan. (Mulai tersenyum)

Aku: Sebenarnya…
Nisa: Sebenarnya apa kak? (memotong singkat perkataan ku)

Aku: Iya sabar dek..
Nisa: Ok Nisa tungguin

Aku: Sebenar nya…. ini adalah moment pertama kali kakak dalam posisi ini dek.
Nisa: Iya terus? (wajah bertanya-tanya dalam hati)

Aku: Kak tahu kita ini baru kenal beberapa hari, tapi ntah kenapa kak merasa dekat banget sama adek.
Nisa: Iya sama kak. Nisa juga gitu, gak tau kenapa.

Aku: Nah, jadi waktu baru lihat adek pertama kali tuh, kak udah merasa senang.
Nisa: Haha, masa iya kak?

Aku: Iya, adek tu orang nya cantik, lucu juga.
Nisa: Hm, biasa aja kok kak.

Aku: Jadi kak mau nanya, salah gak kak kalau kak punya rasa suka sama adek secepat ini?
Nisa: Hm, ya gak juga sih. Kan udah lumayan kenal.

Aku: Iya, jadi kalau boleh ngomong… Mau gak adek?
Nisa: Mau apa kak?

Aku: Mau gak adek jadi pacar kak? (tangan mulai berkeringat dan wajah sedikit menunduk)

Nisa terdiam sejenak…

Disitu aku kembali melanjutkan dialog, untuk memberi nya waktu berfikir.

Aku: Kak janji bakalan setia dan menjaga adek sebagaimana mesti nya (Ini aku serius, bukan sekedar kalimat rayuan semata)

Nisa: Gini kak, Nisa paling gak suka sama orang pembohong dan suka selingkuh. Kak tau sendirikan mantan Nisa sebelum nya.

Aku: Kak bukan seperti orang yang Nisa maksud. Kak kalau udah punya pasangan yah kak jaga perasaan nya.

Nisa: Iya Nisa tau kok, cuma Nisa trauma dengan orang seperti dia.
Aku: Yah kalau itu sih kak gak bisa berbuat banyak. Yang penting kak cuma bisa menyatakan perasaan kak sama nisa.

Nisa: Sebenarnya Nisa seneng banget denger kak ngomong gitu. Dari tadi Nisa tungguin akhirnya kelar juga.

Aku: Jadi jawaban nya dek? Adek mau pacaran sama kak?

Nisa: …. (tersenyum sambil menganggukan kepala nya)

Disitu aku merasa senang dan berkata “Yes” sambil menganyunkan tangan kebelakang.

Aku: Akhirnya jok blakang gak kosong lagi dek….
Nisa: Haha (tersenyum bahagia melihat tingkah ku seperti orang ketiban rezeki)

Tepat tanggal 2 January 2017 Aku dan Nisa resmi berpacaran.

Hari sudah mulai gelap, dan aku harus bergegas mengantar nya pulang sebelum kemalaman.

Kami pun berdiri dari tempat duduk dan mulai melangkahkan kaki.

aku berada sedikit didepan, dan aku belum berani memegang tangan nya lagi.

Nisa: Kak, itu celana nya banyak rumput!
Aku: Ha, masa iya? Mana?

Nisa: Tapi bohong (sedikit mengerjai aku yang di depan)
Aku: Hmm, udah mulai bisa bergurau ya…
Nisa: Haha…

Akhirnya dia memegang tangan ku sambil berjalan mendekati motor.

Jadi kita pacaran ya dek? (tanya ku lugu) Haha, ya iya lah kak (tegas nya)

Setelah sampai di motor, akhir nya kami pulang.

Sayang nya saat itu kami bawa motor masing-masing, jadi aku cuma bisa iringan dijalan yang kebetulan rumah kami searah.

Rumah nya lebih jauh dari pada rumah ku, jadi aku menawarkan untuk mengantar nya sampai kedepan rumah nya.

Namun dia tidak mau, dia hanya membolehkan aku untuk mengantar nya sampai disimpang saja. 

aku yakin kalau dia belum berani atau bahkan di larang berpacaran sama orang tua nya.

Akhirnya kami tiba dirumah masing-masing dan saling mengabari kalau udah sampai.

Seharian Chattingan Dengan Nisa

Cerita kami berlanjut di pesan chat, dan aku menyuruhnya untuk makan.

Aku: Hey…
Nisa: Apa sayang?

Aku: Makan dulu, nanti kurusan!
Nisa: Bagus dong, Nisa kan pengen diet!

Aku: Udah kurus ngapain diet?
Nisa: Ini masih kelihatan gemuk kok.

Aku: Kak serius, udah makan aja dulu nanti diet nya.
Nisa: Hehe, iya ini bentar lagi.

Disitu aku langsung “off” dan ketiduran sampai esok hari.

Pagi nya buka handphone ada banyak pesan masuk. Ternyata si Dia udah chat aku dari tadi malam sampe pagi.

Aku: Hey..
Nisa: Bagusss

Aku: Kenapa?
Nisa: Nyuruh makan abis itu di tinggal, terbaik kak ni ya. Makin sayang Nisa.

Aku: Hehe, aku ketiduran sayang…
Nisa: Yah ngomong lah pak! (sahut nya bercanda)

Aku: Yah nama nya juga ketiduran, gimana mau ngomong buk? (balas ku dengan emot ketawa)
Nisa: Iya juga sih, ah pokok nya jangan di ulangin ya!
Aku: Siap bossqu!

Kisah kami begitu indah, tiada henti nya kami saling chat dan telfonan setiap beberapa menit.

Bahkan aku sampai lupa dengan pekerjaan ku sendiri karena sibuk melayani pacar baru.

Bahkan untuk tidur saja begitu sulit, setiap hari dia terus melintas di fikiran ku, begitu juga dengan nya.

Yah nama nya juga orang baru jatuh cinta. Suka senyum sendiri dan punya pikiran yang gak tenang kaya orang gila.

Dalam keadaan seperti ini, aku harus sadar kalau hobi ku yang bermain game di handphone sudah tidak bisa lagi ku lanjutkan.

Dia sering menelpon ku kalau aku gak ada kabar. Alhasil aku harus meninggalkan game dan mengangkat telfon nya walau sedikit kesal.

Bertemu Dengan Ayah Nisa

Selang beberapa hari kemudian, aku pulang kerumah orang tua aku. Karena aku kerja di kota dan pulang seminggu sekali.

Disana ada tamu pria yang merupakan rekan kerja ibu aku.

Dia datang hanya untuk bersilahturahmi kerumah teman-teman nya yang ada disini termasuk ibu ku.

aku tidak begitu antusias dengan kedatangan nya, karena saat itu aku lebih memilih untuk telfonan dengan si Do’i.

Karena suara perbincangan mereka begitu keras dengan canda tawa, si do’i merasa risih.

Nisa: Itu suara ketawa siapa sih ribut kali?
Aku: Biasa, rekan kerja mama!

Nisa: Mana? biar adek tampol, ketawa nya gede banget.
Aku: Ok tunggu ya biar kak ambil foto nya diam-diam.

Setelah berhasil mengambil foto nya diam-diam. Aku kirim tuh foto nya ke dia.

Pas dia melihat foto pria itu, Dia terkejut.

Nisa: Itu rekan kerja mama kak?
Aku: Iya, kenapa?

Nisa: Dia kesitu naik apa?
Aku: Gak tahu, cuma ada motor baru liat depan rumah nih. Kaya nya punya dia.

Nisa: Coba fotokan kak!
Aku: Nih, emang ada apa dengan orang itu?

Nisa: Lah itu kan Ayah Nisa!
Aku: Ha? Masa iya?

Ternyata eh ternyata, pria yang datang kerumah aku adalah Ayah dari Nisa.

Nisa begitu terkejud kalau orang tua kami sudah saling kenal.

Tapi ini adalah jalan bagus bagi ku untuk memperkenalkan diri dengan orang tua nya.

Tak lama pria itu pulang dan berpamitan. Aku bergegas mengantar nya kedepan dengan penuh antusias.

Hati-hati dijalan pak. Sahut ku dengan penuh semangat.

Iya, terimakasih nak. Ujar nya balik pada ku.

Selepas dia pergi. Aku pun bercerita sedikit tentang bapak itu kepada ibu ku.

Aku: Ma, bapak itu punya anak cewek kan yang bungsu?
Ibu: Iya, kok rudi tahu?

Aku: Iya tahu lah Ma, anak nya itu pacar nya Rudi ma!
Ibu: Ha? Kenapa kamu gak bilang dari tadi?

Aku: Emang kenapa Ma?
Ibu: Iya, soal nya di kesini tuh mau minta tolong cari anak laki buat jodoh anak nya yang bungsu itu.

Dia lagi kelilit hutang tuh,  jadi anak nya di nikahin biar bisa bayar hutang nya di bank. “sambung ibu ku”.

Yah, kenapa gak mama tawarin aja tadi? (sahut ku dengan penuh kecewa).

Ya mana Mama tau kalau kamu itu pacaran sama anak nya! (tegas ibu ku).

Kami juga baru pacaran seminggu kok Ma. (kata ku)

Mau gimana lagi, kalau jodoh nya kamu ya ga bakal pergi ke orang lain kok. (terus terang ibu).

Masa Lalu Nisa Dengan Mantan nya

Hubungan ku dengan Nisa terus berlanjut, hingga akhirnya hubungan ini mulai didengar oleh saudara dan sahabat Nisa yang juga aku kenal.

Teman-teman ku gak percaya kalau aku pacaran sama Nisa, bukan karena dirinya terlalu cantik atau punya stelan tinggi.

Tapi, mereka heran kenapa aku mau sama wanita seperti Nisa yang memiliki prilaku tidak baik soal berpacaran.

Mereka bercerita sedikit tentang Nisa kalau Nisa adalah barang seken alias bukan anak gadis lagi.

aku sempat terkejut mendengar kabar tersebut langsung dari sepupunya sendiri.

Rasanya emang gak mungkin orang dengan wajah lugu dan polos seperti dia pernah melakukan hal sejelek itu dengan mantan nya.

Malam hari nya aku coba telfon untuk meminta klarifikasi. Namun sayang nya saat itu dia lagi badmood karena habis di marahin orang tua nya.

Perlahan aku coba tenangkan dan memulai untuk mengambil topik pembahasan soal mantan nya.

Disitu dia mulai curiga dengan pertanyaan-pertanyaan yang aku ucapkan soal mantan nya.

Dia tiba-tiba menangis dan berkata kalau “Nisa gak baik untuk kakak”. Nisa gak pantes buat milikin kakak! sahut nya yang tersendu-sendu.

aku memaksanya untuk terus terang soal apa yang sebenarnya terjadi.

Tapi dia merasa malu untuk mengatakan nya, hingga akhirnya aku memulai lebih dulu soal keburukan dan prilaku berpacaran ku yang tidak jauh beda dengan nya.

Akhirnya setelah Dia tahu kalau aku juga pernah melakukan hubungan tidak senonoh, akhirnya dia juga mengakui kesalahan nya yang pernah ia perbuat.

Disitu aku sedikit kecewa, tapi aku sadar karena aku juga pernah diposisi seperti dia.

Akhirnya kami berjanji untuk tidak menceritakan hal ini pada siapa-siapa dan saling memahami satu sama lain.

Nisa Kecewa Dengan Ku

Hari libur sudah selesai, Nisa berangkat ke sekolah untuk semester baru nya.

Disini kami sedikit sibuk dengan urusan masing-masing. Namun dia meminta ku untuk terus mengabari nya sesekali lewat telepon.

Sayang nya, aku sering lupa dengan hal itu. Karena aku lebih sering bermain game dikala bosan.

Hal ini membuat Nisa semakin jengkel dan memarahi ku. Ia bahkan merasa kecewa dengan sikap ku yang lebih mentingin game dari pada dia.

Kamu kemana aja? kata Nisa dengan penuh rasa kecewa.

Aku terkejut melihat dia yang sudah ada didepan pintu kos ku.

Mungkin dia tahu kos aku dari teman-teman ku yang sudah di kenal nya.

Aku cuma bisa terdiam melihat nya dengan posisi ku yang lagi bermain game di smartphone.

Sesaat dia langsung pergi meninggalkan ku dengan penuh rasa kecewa.

Bodoh nya, aku malah terus melanjutkan game ku yang tertunda hingga selesai.

Disitu aku baru sadar dengan apa yang terjadi. Aku coba telfon dia.

2 hingga 3 kali menelpon, dia tidak mau mengangkat. Akhirnya yang ke empat dia menjawab telfon ku.

Aku: Sayang kamu kenapa?
Nisa: Kamu masih nanya aku kenapa? Kamu ini gak punya fikiran apa? (menjawab dengan nada tinggi)

Disitu dia mulai menangis dan kecewa dengan sikap ku yang berubah.

Akhirnya kata terakhir dia meminta ku untuk berpisah dan menutup telfon nya.

Sontak aku langsung panik dan mencari cara untuk memperbaiki masalah ini.

Aku benar-benar gak rela jika kami berpisah.

Akhirnya aku memutuskan untuk  datang kerumah nya segera.

Kebetulan aku pernah kerumah nya sekali ketika mengantar nya kesekolah. Jadi aku masih ingat alamat rumah nya.

Disitu aku singgah membeli cemilan dan minuman dan aku langsung bergegas ke rumah nya.

Berdua di Rumah Nisa

Sesampai nya di depan rumah Nisa. Rumah itu tampak sepi dan di kunci dengan pintu teralis.

Aku memanggil nya dari dalam namun tak ada jawaban sama sekali.

Aku yakin dia ada dirumah, mungkin dia masih marah dan tak mau membukakan pintu untuk ku.

Tapi aku gak nyerah gitu aja, aku terus memanggil nya hingga akhirnya anjing peliharaan nya ribut menggonggong ku.

Karena merasa ribut, tiba-tiba Nisa keluar dari kamar dan membukakan pintu untuk ku.

Ternyata dia ketiduran, dia menyuruhku untuk segera masuk.

Rumah tersebut tidak ada siapa-siapa selain dia sendiri dengan hewan peliharaan nya.

Nisa langsung pergi ke kamar dan kembali berbaring.

Aku mengikutinya sampai disana, mata nya tampak memerah karena habis menangis.

Aku merasa bersalah dan segera memeluk nya dan meminta maaf.

Dia kembali menangis di pundak ku sambil memukul ku dengan genggaman nya halus.

Aku biarkan sampai dia berhenti melakukan itu semua, dan aku mengambil alih bicara untuk menjelaskan dan meminta maaf pada nya.

Akhirnya Nisa mau memaafkan ku dan hubungan kami kembali baik seperti biasa.

Merasa situasi sudah membaik, aku bergegas untuk pulang.

Namun Nisa menarik tangan ku dan berkata. “Kamu mau kemana”?

Pulang! jawabku halus.

Temani aku dulu sebentar, kata nya dengan nada sedih.

Mau tidak mau aku harus menuruti permintaan nya dari pada dia kembali marah.

Tiba-tiba dia mencium ku dengan hangat dan memeluk lagi dengan kuat.

Aku merasa panik, karena takut kalau ada yang lihat. Apalagi kami berada dikamar nya hanya berdua.

Ga usah takut! Orangtua ku udah pergi kerja, katanya dengan santai.

Disitu aku tahu kenapa dia berani mengajak ku sampai ke kamar.

Tahukah kalian, disitu aku dan Nisa berciuman dan sempat memeluknya dalam posisi berbaring.

Dari gerak gerik nya tampak nya ingin mengajak ku melakukan hal terlarang. Tapi aku menolak nya!

Dulu aku pernah berjanji untuk menjaga nya dan tidak akan merusaknya.

Jadi kegiatan kami berdua hanya sebatas cium dan pelukan di kamar tersebut.

Hari sudah mulai gelap dan aku pun berpamitan pulang.

Maaf Aku Khilaf

Keesokan harinya tepat nya pada malam hari jam 11 malam.

Nisa menelfon ku untuk mengabari kalau dia takut.

Nisa: Sayang, kamu dimana?
Aku: Dikos, kenapa?

Nisa: Nisa kesana ya, Nisa takut sendirian dirumah.
Aku: Loh ngapain, emang orang-orang dirumah pada kemana?

Nisa: Mereka pergi kerja! Mama papa biasa pergi kerja jam segini.

Aku ingat kalau orang tuanya sudah berangkat kerja tengah malam karena orang tua nya seorang pedagang besar di pasar.

Mereka berangkat tengah malam untuk membeli sayuran dan berbagai jenis dagangan untuk di jual di pasar pada subuh hari.

Kasihan dengan Nisa yang sendirian dirumah, aku membolehkan nya nginap di kos ku.

Sebelumnya aku meminta nya untuk dijemput tapi dia tidak mau karena bisa bawak motor sendiri.

Tak lama akhir nya dia sampai di pintu kos dan mengetuk pintu.

Aku buka pintu dan dia masuk. Dengan cepat dia langsung memeluk ku.

Tubuh nya terasa dingin, mungkin karena angin malam selama di naik motor kesini.

Aku memberi nya segelas air hangat sembari memasangkan jaket tebal untuk menghangatkan nya.

Disitu di langsung berbaring di ranjang dan tertidur pulas.

Aku memberi nya selimut dan kembali melanjutkan pekerjaan ku di depan komputer hingga larut malam.

Tepat jam 2 dini hari aku merasa ngantuk. Kebetulan tempat tidur hanya satu dan mau tidak mau aku tidur dilantai.

Tiba-tiba Nisa terbangun dan berkata “Kenapa tidur dibawah?”

Yah gak mungkin juga aku tidur satu ranjang sama Nisa, jawab ku lemas.

Aduh sayang, biasa ajalah! Sini tidur disamping aku! Atau aku marah? Ujar nya dengan manja.

Akhirnya aku memberanikan diri untuk tidur disamping nya.

Dalam hati aku benar-benar cemas dan takut. Tapi Nisa tampak biasa-biasa saja seperti menganggap ku yang hanya seorang cewek seperti dia.

Dia kembali memeluk ku dan menarik selimut. Rasa cemas ku semakin kuat karena iman ku sedang di uji malam itu.

Dia mulai mencium ku dan aku hanya terdiam tak berdaya seperti seorang cewek lugu.

Kok panas banget ya? Ujar Nisa yang gerah.

Dia mulai membuka baju dan jantung ku semakin berdebar cepat. Rasanya mau copot!

Disitu aku hanya menatap nya diam sambil menelan ludah.

Saat ini Nisa berada disamping ku tanpa pakaian selain singlet nya yang tipis.

Sebagai seorang laki-laki normal. Aku benar-benar gak kuat melihat situasi ini.

Tangan Nisa mulai menjalar keseluruh tubuh ku sambil mengecap ku.

Aku hanya bisa pasrah dan membiarkan Nisa melanjutkan aksi nya.

Disini aku mulai sadar apa yang ingin Nisa lakukan.

Ya! Kalian gak salah lagi….

Kami melakukan hubungan layak nya suami isteri pada malam itu.

Pagi tiba, Nisa terbangun dari tempat tidur, mandi dan bergegas pergi ke sekolah dari kos ku langsung.

Dia tampak biasa-biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa dengan hal yang sudah kami lakukan tadi malam.

Hampir setiap malam Nisa datang ke kos ku untuk menemani nya tidur.
Dan lagi, hubungan ini terus kami lakukan tanpa ada seorang pun yang tahu.

Nisa di Jodohkan Orang Tuanya

Memasuki 1 bulan penuh, Nisa mengajak ku pergi jalan untuk merayakan 1 bulan hubungan berpacaran dengan nya.

Kami pergi ke sebuah Mall untuk sekedar makan minum dan jalan-jalan menyisiri setiap sudut Mall.

Saat lagi asik ngobrol, tiba-tiba nisa bilang ke aku kalau dia dilamar oleh seseorang yang merupakan kenalan orang tua nya.

Terus kamu mau? Tanya ku terkejut.

Ya nggak lah kak, jawab nisa dengan cepat.

Tapi orang tua ku maksa aku cepat nikah biar bisa bantu lunasin utang Papa, sambung Nisa dengan nada sedih.

Kamu kan masih sekolah, ngapain nikah cepat-cepat? Tanya ku lagi.

Iya, ini cuma tunangan aja. Itu pun orang yang lamar Nisa masih pikir panjang karena mahar nya masih dicari dulu, jawab Nisa.

Ohh, yasudah tunggu aku kumpulin uang buat lamar kamu. Enak aja Nisa diambil orang, ujar ku dengan penuh semangat untuk membuktikan nya.

Mahar 100 Juta Untuk Nisa

Seminggu kemudian, tiba-tiba Nisa kabari aku lewat telfon.

Nisa: Sayang?
Aku: Iya, ada apa sayang?

Nisa: Kayak nya kita gak bisa lanjutkan hubungan ini lah, maaf ya!
Aku: Hah kenapa? Kamu kok ngomong gitu?

Nisa: Iya, soal nya orang tua ku udah sepakat jodohin aku dengan pria lain. Mereka udah menyanggupi mahar yang di jatuhkan Papa Nisa.
Aku: Kenapa harus sama orang lain?

Nisa: Kalau kamu beneran sayang sama Nisa harus nya kamu berani ngomong sama papa nisa!
Aku: Ok, nanti pulang sekolah antar aku kerumah Nisa buat jelasin semua hubungan kita.
Nisa: Iya, nanti Nisa kesana.

Sepulang sekolah, aku dan Nisa pulang kerumah nya bersama-sama.

Setiba dirumah, Nisa masuk lebih dulu dan dia menyuruhku untuk nunggu diluar sebentar.

Beberapa menit akhirnya Nisa menyuruhku masuk. Disana ada Ibu Nisa, saudara Nisa laki-laki (Pengacara) dan Paman Nisa (Mantan Preman).

Nisa udah jelasin maksud dan kedatangan ku kerumah nya.

Jadi kenapa kamu mau menghalangi pertunangan Nisa dengan orang lain? Kata abang Nisa sedikit lugas.

Iya bang, aku ini pacar nya Nisa. Maaf sebelum nya baru ngabarin sekarang. Aku mau Nisa nikahnya sama aku aja bang, ujar ku dengan polos.

Emang kamu kerja apa dan udah punya uang yang cukup untuk melamar Nisa sekarang? Ujar Paman Nisa dengan nada sepele.

aku cuma kerja dibagian bisnis online bang, aku rasa gaji ku cukup lah untuk membiayai Nisa, jawab ku dengan pelan.

Kamu udah tau Mahar Nisa itu berapa buat menikah dengan nya? sambung Paman Nisa.

Belum om, kalau boleh tau berapa ya om? jawab ku lagi.

Rp.100 Juta! Sahut Ibu dari Nisa.

aku langsung terkejut mendengar angka sebesar itu.

Besok kamu silahkan datang kesini jam 9 pagi, bawa orang tua kamu dan uang mahar nya sekalian. Kalau tidak sanggup, maka jangan pernah kamu tunjukan batang hidung kamu disini lagi! Lanjut kata Abang Nisa dengan tegas

Dia menyuruhku menandatangani surat dimaterai. Isi nya soal perjanjian sanggup atau tidak nya aku menuruti syarat dan mahar yang diminta.

Jika tidak sanggup, maka dengan terpaksa aku harus berpisah dengan Nisa.

Disitu aku merasa kecewa dengan sikap keluarga Nisa yang mematok mahar tanpa ada perundingan sama sekali.

Akhirnya aku pulang kerumah orang tua ku dan membicarakan ini semua kepada mereka.

Ibu aku terkejut soal mahar 100 juta itu, apalagi ibu ku harus ke luar kota besok karena ada urusan penting.

Akhirnya ia menelfon Papa Nisa karena merupakan rekan kerja nya.

Dalam pembicaraan mereka, tampak nya orang tua Nisa bersih keras dengan keputusan nya.

Akhirnya Ibu aku menolak syarat tersebut. Dan dengan kecewa aku mendengar kabar buruk ini.

Keesokan harinya aku memang tidak bisa datang karena tak satu syarat pun bisa aku penuhi.

Dengan begitu, hubungan aku dan Nisa harus berakhir. Dan Nisa resmi bertunangan dengan Pria lain yang lebih kaya.

Aku coba menelfon Nisa dan dia menjawab dengan penuh tangis.

Maaf ya kak, aku harua pergi sama orang lain, ujar Nisa lebih dulu.

Iya, aku ngerti kok. Aku juga belum mapan untuk Nisa, jawabku dengan rasa kecewa.

Tapi kita masih bisa komunikasi dan ketemuan diam-diam kok, kak. Apalagi Nisa nikah nya masih lama, nunggu tamat sekolah dulu, ujar Nisa seolah menyemangati ku.

Iya makasih Nisa, kamu tau kan aku belum bisa lupain kamu gitu aja, jawabku lemas.

Nisa Masih Bersamaku

Hari-hari berlalu, Nisa kerap singgah ke kos ku untuk sekedar bertemu.

Aku tau Nisa udah tunangan, tapi Nisa masih menyimpan rasa cinta yang lebih besar terhadap ku.

Begitu juga dengan aku, kami masih saling mencintai walau fakta memisahkan.

Tak jarang sepulang sekolah Nisa singgah ke kos dan kami melakukan hubungan terlarang di kamar kos ku beberapa kali.

Nisa Pergi Ke Jakarta

Akhirnya Nisa sudah tamat dari sekolah nya.

Satu bulan lagi Nisa bakalan menikah dengan tunangan nya.

Namun tampak nya hubungan Nisa dengan tunangan nya tidak begitu baik.

Mereka sering cek cok karena memang Nisa tidak menyukai tunangan nya tersebut yang jauh lebih tua dari aku.

Suatu saat ketika Tunangannya berada dirumah Nisa. Mereka bertengar dengan satu masalah.

Dengan lancang Tunangan nya menampar Nisa didepan ibu Nisa.

Hal itu membuat Nisa menangis dan memicu amarah Ibu Nisa.
Ibunya menyuruh tunangan nya untuk pulang.

Setelah memahami sikap kasar tunangan nya, Ibu Nisa menyuruh Nisa untuk pergi jauh agar pernikahan mereka dibatalkan.

Keesokan hari nya Nisa berangkat ke bandara di antar oleh paman nya.

Disana Nisa tinggal kerja dengan tante nya yang memang punya usaha sendiri dirumah nya.

Selama di Jakarta, Aku dan Nisa masih sering berkomunikasi walau hanya lewat telepon.

Tapi kami masih panggil sayang satu sama lain dan berharap hubungan kami akan terus berlanjut ke jenjang yang lebih serius.

Dia berpesan agar aku bekerja lebih keras lagi dan dia juga akan membantu aku dengan bekerja disana mencari uang untuk mahar nanti.

Dua bulan berada di Jakarta, Nisa seperti nya punya kenalan baru disana. Ya, mustahil orang secantik dia tidak ada yang naksir.

Tapi kabarnya Nisa benar-benar menjaga perasaanku disini, dan dia hanya berfokus pada pekerjaan nya.

Aku pun percaya, lagi pula aku juga tidak menganggap ini adalah hal yang serius. Karena aku juga sibuk dengan pekerjaan ku sendiri.

Nisa Pulang Ke Kampung Halaman

Lima bulan di Jakarta, akhirnya Nisa memutuskan untuk kembali pulang kekampung halaman nya.

Aku gak bisa menjemputnya di bandara karena keluarga Nisa sudah lebih dulu menyambut nya disana.

Setelah dua hari di rumah, Nisa mengajak ku untuk pergi jalan ketempat dimana kami bisa saling melepas rindu.

Saat itu aku memilih pergi ke sebuah taman dimana aku dan nisa resmi berpacaran pertama kali.

Aku menjemputnya kerumah dan langsung tancap gas.

Diatas motor dia langsung memeluk ku erat, aku tahu dia pasti rindu berat.

Dia juga tak henti-henti nya berbicara soal pengalaman nya di Jakarta.

Aku hanya mendengarkan nya saja sambil mengemudikan motor untuk sampai di sebuah taman.

Setibanya di taman, dia kembali melanjutkan ceritanya tadi kepada ku.

Aku pun menikmati setiap perkataan nya dan saling bertukar kalimat.

Tidak ada yang begitu spesial di taman, aku tidak bisa mencium dan memelukanya karena situasi yang cukup ramai.

Tak terasa hari sudah mulai gelap, akhirnya kami memutuskan untuk pulang.

Setiba di depan rumah nya, Nisa turun dan berpesan “Jangan pergi dulu”.

Ada apa? tanya ku bingung.

Dia bergegas masuk kerumah dan tak lama ia berdiri didepan pintu menyuruh ku masuk sambil melambaikan tangan nya.

Aku pun turun dari motor dan melangkahkan kaki kedalam.

Fikirku dia mau ngasih sesuatu atau apalah itu, tapi ternyata bukan hanya sekedar itu saja.

Dia memeluk dan mencium ku diruang tamu. Memang saat itu rumah nya lagi kosong dan tidak ada siapa-siapa selain dia.

Aku pun membalas kecupan nya dan memeluknya erat.

Saat itu dia benar-benar melepas kerinduan nya bersama ku. Hanya ada aku dan dia.

Tak lama dia menggiring ku kekamar nya.

Dan tebak, kami benar-benar kembali melakukan hubungan mesra di dalam kamar, sama seperti ketika pertama kali aku kerumah nya saat itu.

Satu jam berada dirumah Nisa, akhirnya kami selesai melepas rindu yang tak tertahankan itu. Disitu kami melunaskan semua hasrat yang terbendung dikamar nya.

Hari itu kami benar-benar merasa puas, apalagi aku dan dia udah lama gak melakukan hal yang udah biasa kami lakukan seperti dulu.

Aku Melepas Nisa Sepenuhnya

Dua minggu berlalu, kami sudah mulai jarang untuk ketemuan. Bahkan chatingan di media sosial sudah tidak lagi.

Ini karena aku benar-benar sibuk dengan pekerjaan ku yang saat itu tiba-tiba ngedrop.

Kesibukan ku membuat Nisa merasa di cuekin, jadi Dia perlahan mulai menghindar dari ku.

Saat itu kebetulan sahabat Nisa masa kecil bertemu dengannya di media sosial.

Sebut saja nama nya Ridho yang kala itu lebih mapan dari aku.

Dulu waktu kecil mereka saling suka, namun akhirnya berpisah karena orang tua Ridho harus pindah ke luar kota karena pekerjaan.

Pertemuan ini disambut hangat oleh Nisa, apalagi Nisa juga pernah sayang sama Ridho.

Aku mengetahui hal ini dari teman nya Nisa, tapi aku gak terlalu mikirin hal ini. Ya, aku masih fokus dengan pekerjaan ku.

Akhirnya tak lama setelah mereka bertemu, entah bagaimama Nisa dan Ridho menjalin hubungan diam-diam dibelakang ku.

Tentu nya aku menyadari hal ini, disitu aku sedikit kecewa namun aku juga sadar kalau aku juga salah karena telah membiarkan Nisa tanpa ada mengabari nya.

Disitu aku minta ketemuan namun dia tidak bisa. Yasudah aku minta dia menjelaskan ini semua lewat telepon saja.

Setelah mengerti apa yang di inginkan Nisa, aku dengan penuh kecewa dan amarah langsung mengatakan “Putus” dengan nya.

Sudahlah Sa, hubungan kita selesai sampai disini aja. Terserah kamu mau pergi sama siapa aja. Kamu bebas mengikuti keinginan hati mu, ujar ku dengan nada kecewa.

Dia hanya terdiam dan menutup telepon.

Disitu aku langsung blokir kontak nya dan mulai melupakan nya secara perlahan.

Nisa Punya Pacar Baru

1 tahun berlalu ternyata ketika aku membuka media sosial, aku sempat stalking akun media sosial nya.

Aku lihat Nisa berfoto mesra dengan orang baru lagi.

Aku merasa senang, kenapa? Ya, karena aku merasa benar-benar bebas dari dia dan ada pria yang mau menerima Nisa dengan segala kekurangan nya.

Bahkan tampak nya mereka juga sudah tunangan, hal ini terlihat dari foto-foto mereka memamerkan dua cincin di jari manis mereka berdua.

Kebetulan saat itu Nisa lagi online, jadi aku coba chat saja dia dengan niat supaya aku tidak dianggap sebagai mantan bajingan.

Aku: Hey…
Nisa: Iya kak, tumben…

Aku: Haha, kamu dimana sekarang?
Nisa: Masih dirumah, ada apa?

Aku: Siapa tuh yang di foto? kayak nya spesial nih.
Nisa: Ohh, itu tunangan aku kak. Baru dua bulan.

Disitu Nisa langsung menjelaskan detil pria tersebut seolah-olah membandingkan aku dengan nya.

Aku sih biasa aja, dan ujung nya bilang ke dia “Ohh, selamat ya, jangan lupa undangan nya”. Sahut ku tersenyum.

Masih lama lagi kak, kami fokus kerja dulu biar benar-benar matang untuk menikah, ujar nya dengan penuh rasa bangga.

Yasudah, kamu baik-baik aja sama dia, jangan aneh-aneh kaya kita dulu. Hehe, ujar ku sedikit mengingatkan dia dengan masa lalu kami yang suram tapi seru.

Haha, ya gak lah kak. Tapi kakak masih tetap orang spesial kok walau hanya sebatas mantan, terang nya di pesan chat.

Haha, Makasih lah ya. Udah dulu, aku mau off, jawabku sedikit tertawa.

Iya kak, Nisa juga masih sibuk. Daah… balas nisa dengan emot melambaikan tangan. ~End

Kesimpulan

Dalam cerita cinta ku ini nama dan tempat disamarkan.

Alur cerita sedikit berantakan namun tetap diambil dari fakta yang ada.

Ini cerita ku, apa cerita mu?

Kamu punya cerita yang ingin kamu bagikan ke orang lain?

Silahkan tulis dan kirim cerita mu ke alamat email ini: info@insuara.com atau bisa langsung masuk Disini.

Ingat, memendam cerita dan uneg-uneg itu gak baik lho buat kesehatan.

Rasanya setelah menulis cerita ini, aku benar-benar merasa lega dan  lebih enjoy dari sebelum nya.

Terimakasih sudah membaca cerita pendek ku, semoga kalian senang dan bisa mengambil nilai positif dan menyisihkan nilai negatif nya dalam cerita ini. Sampai berjumpa di cerita selanjutnya.

Editor Pick’s

Newsteller

Berlangganan GRATIS di insuara.com untuk mendapatkan update artikel menarik setiap harinya:

Music

Lifestyle

Top