Connect with us

Sport

7 Alasan Kenapa Timnas Indonesia Tidak Pernah Masuk Piala Dunia

Avatar

Published

7 Alasan Kenapa Timnas Indonesia Tidak Pernah Masuk Piala Dunia

insuara.com – Mungkin ini pertanyaan yang sering terbayang dipikiran pembaca semua. Dan Apakah Indonesia bisa masuk Piala Dunia? jawabannya yaitu “BISA” .Kenapa saya menjawab bisa? karena Indonesia merupakan negara dengan penduduk terbesar ke-3 di dunia, maka tidak susahlah mencari talenta talenta yang berbakat dari seluruh nusantara.

Pertama Kalinya Indonesia Masuk Piala Dunia

7 Alasan Kenapa Timnas Indonesia Tidak Pernah Masuk Piala Dunia

Piala Dunia 1938 jadi panggung dunia pertama bagi Tim Nasional (Timnas) Indonesia yang kala itu berjubah Hindia Belanda.

Indonesia berhasil menjejak Piala Dunia 1938 setelah Jepang yang jadi lawan mereka di babak kualifikasi memutuskan untuk undur diri.

Baca Juga: Sengaja Ciderai Mohamed Salah, Sergio Ramos Di Tuntut Rp.16 Triliun

Keputusan yang diambil Jepang itu tidak lepas dari situasi pelik yang tengah mereka hadapi. Ya, Jepang sedang berperang dengan China. Sehingga Indonesia yang mewakili Benua Asia di putaran final Piala Dunia 1938.

Diketahui, pemain-pemain Indonesia saat itu berasal dari klub-klub yang bernaung di bawah Nederlansche Indische Voetbal Unie (NIVU) atau federasi sepak bola pemerintah kolonial Belanda.

Namun, Piala Dunia 1938 nyatanya tidak berjalan mulus bagi Indonesia. Mereka gugur di babak pertama usai kalah dari Hungaria dengan skor 0-6. Saat itu, pertandingan digelar pada 5 Juni 1938 di Stadion Velodrome, Reims Prancis. Sekarang stadion itu bernama Stadion Auguste Delaune.

Indonesia pun akhirnya pulang dari Prancis dengan setumpuk sejarah. Dan sampai saat ini, belum ada lagi Piala Dunia yang diikuti oleh Indonesia.

Tapi sepertinya sekarang itu sulit sekali mencari pesepakbola berbakat dari negeri ini. Mengapa sulit? ada beberapa sebab mengapa sulitnya mencari pesepakbola berbakat dari negeri ini, yaitu :

Buruknya Kualitas Federasi

Minggu lalu, saya baru membaca berita tentang tim nasional Lebanon dan Theo Bucker. Ya, saya sadar saya memang terlambat. Tapi lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Btw, anda tidak perlu mencari tahu siapa Theo Bucker dan hubungannya dengan timnas Lebanon di Google. Biar saya yang menjelaskannya.

Semua berawal ketika Lebanon kalah dari Qatar akibat kesalahan passing Ramez Dayoub. Setelah pertandingan, dilakukan investigasi. Dan akhirnya terbukti bahwa Dayoub beserta Mahmoud Al Ali melakukan pengaturan skor. Mereka berdua dijatuhi hukuman larangan bermain seumur hidup.

Mungkin contoh ini memang terlalu klise dan sempit. Namun setidaknya, ini mungkin bisa memberikan gambaran bahwa dengan federasi yang baik, sebuah negara kecil seperti Lebanon saja bisa menembus putaran keempat kualifikasi piala dunia.

Krisis Kepercayaan Diri

Mencoba untuk realistis bukan berarti anda tidak boleh bermimpi. Selama anda bukan pemuja Steve Jobs yang telah memasrahkan sepenuhnya hidup anda ke tangan produk-produk Apple tanpa berusaha membandingkan dengan merk lain, maka anda jelas masih dapat untuk berangan-angan tentang keinginan kalian. Setidaknya, mimpi itulah yang akan membuat kita untuk melewati batas-batas yang saat ini menghalangi kita.

Ketika menghadapi tim yang kualitasnya lebih hebat diatas kita, kita memang harus mampu berusaha berpikir secara realistis. Namun hal tersebut tidak berarti kita boleh pasrah begitu saja. Kita jelas harus tetap percaya bahwa kita bisa menang.

Tapi sialnya, hal inilah yang sering menimpa tim nasional kita. Mulai dari para pemain, manajemen, hingga suporternya terkadang justru lebih mendukung tim lawan ketimbang tim nasional sendiri. Kalau sebelum pertandingan saja sudah menyiapkan alasan untuk digunakan pada akhir pertandingan nanti, untuk apa lagi anda bertanding? Toh anda sudah tahu bahwa anda pasti kalah.

Kalah Postur Dan Stamina

Hampir di setiap kekalahan yang kita alami, faktor stamina selalu menjadi kambing hitam. Satamina Timnas Indonesia memang terbilang sangat lemah di banding dengan Timnas yang lain. Sehingga di late game, indonesia dengan mudah di robohkan.

Selain faktor stamina, ada satu faktor lagi yang biasanya dipergunakan sebagai alasan kualifikasi piala dunia, yakni faktor postur. Mau bagaimanapun, faktor postur badan memang menjadi salah satu penentu dalam jalannya pertandingan. Mengingat indonseia melawan Belanda, Andik Vermansyah sempat melewati Ron Vlaar dengan kecepatannya. Namun pada akhirnya ia kalah oleh jangkauan panjang kaki Vlaar yang secara cepat membuang bola.

Ini memang merupakan alasan yang sangat masuk akal. Namun mau sampai kapan kita pasrah kepada postur badan? Kalau terus menerus menyalahkan postur badan, ya berarti sama saja kita pasrah pada keadaan.

Tidak Mampu Menjuarai Piala AFF

Jangan muluk-muluk untuk lolos ke Piala Dunia. Untuk lolos ke putaran final Piala Asia saja negara kita sudah susah payah. Oh iya, bahkan Indonesia saja belum pernah satu kalipun menjuarai kejuaraan regional terkecil, AFF Cup.

Sebenarnya hal ini tidak bisa dijadikan dasar atas kegagalan kita lolos ke Piala Dunia karena para juara AFF sebelumnya juga belum pernah lolos ke Piala Dunia. Namun setidaknya, hal ini bisa menjadi salah satu faktor pembanding yang tepat. Jika yang lebih hebat dari kita saja tidak bisa lolos, lalu bagaimana dengan kita?

Solidaritas Sesama Negara ASEAN

Mengingat bahwa belum pernah ada satupun negara  ASEAN yang lolos ke Piala Dunia setelah kita mengikutinya dengan nama Hindia Belanda, barangkali kita ingin menunjukkan solidaritas sesama negara Asia Tenggara.

Selain faktor solidaritas tersebut, negara-negara di ASEAN memang tampak kesulitan untuk menyamai kualitas negara-negara di belahan Asia lainnya. Jangankan di level tim nasional, di level klub saja kita sering dijadikan bulan-bulanan oleh tim dari Timur Tengah ataupun Asia Timur. The Curse Of The Third Round

Jika melihat nomor diatas, maka sepertinya alasan solidaritas tersebut bisa menjadi sesuatu yang memang benar adanya. Bayangkan saja, pada kualifikasi Piala Dunia Brazil 2014, semua negara ASEAN gugur pada putaran ketiga. Apalagi namanya kalau bukan solidaritas?

Jepang dan Korea Selatan

Tak perlu bersusah-susah menyamakan diri dengan negara-negara di Eropa. Keberhasilan kita lolos ke Piala Dunia tidak akan ditentukan oleh hasil pertandingan melawan negara di benua tersebut. Oleh sebab itu, mari kita membandingkan diri dengan dua kekuatan besar Asia, Jepang dan Korea Selatan.

Menurut saya pribadi, jika kita ingin meningkatkan kualitas tim nasional, kita bisa belajar dari Jepang dan Korea Selatan. Karena selain lebih rasional dan tidak membuang uang lebih banyak, kualitas mereka terbukti berhasil membawa mereka ke Piala Dunia.

Salah satu faktor yang wajib kita lihat adalah kualitas liga milik mereka. Jepang dan Korea Selatan sama-sama memiliki liga profesional yang sangat terorganisir baik itu dari segi keuangan, infrastruktur, hingga pembinaan pemain muda.

Realistisnya, merekalah yang seharusnya kita “Kalahkan”. Karena apabila kita tidak mampu melewati kualitas mereka, selamanya mereka akan tetap menjadi wakil dari Asia di ajang Piala Dunia.

Minim Kerja Sama Tim

Yang terakhir yaitu karena kebanyakan orang Indonesia lebih mengandalkan skill individu dari pada teamwork. Tidak heran bahwa sekarang banyak pemain yang sifatnya individual di Indonesia, contoh : Ferinando pahabol, Andik Vermansyah dan masih banyak lagi.

Kisruh internal di PSSI juga berdampak bagi progres timnas Indonesia. Pada tahun yang lalu-lalu bahkan sampai terbelahnya Timnas Indonesia, itu sangat lucu karena ada 2 timnas senior di Negara ini. Ini jangan sampai terjadi lagi.

Agar Timnas bisa ke Piala Dunia, mungkin dengan kerja keras para pemain, staff, pelatih, pemerintah dalam menanggulangi masalah masalah diatas. Semoga Indonesia bisa ke Piala Dunia tanpa jadi tuan rumah.

Editor   :  Admin
Source : Berita Sepak Bola

Show All
Advertisement
Slot iklan insuara

Editor Pick’s

Newsteller

Berlangganan GRATIS di insuara.com untuk mendapatkan update artikel menarik setiap harinya:

Trends

Lifestyle

To Top